Sejenak ku terdiam bersama Dheavira, ya dia adalah
temanku sejak kita TK, melihat sebuah bangunan yang asing bagi kita dari
sebrang jalan bertuliskan SMP Negeri !79 Jakarta. Perlahan kami masuki gerbang
sekolah itu dengan ragu. Sambil melihat lihat apakah ada lagi kawan kami dari
SD.
Hai, namaku
Mega Merdekawati. Aku adalah salah satu siswi di SMP N 179 Jakarta. Hari ini
adalah hari pertamaku duduk di bangku SMP dan aku masuk kelas VII-2. Beberapa
hari setelah MOS, ada seorang kakak kelas dari kelas VIII-1 menghampiriku ke
kelas, entah siapa namanya, karena ketika berkenalan ia tidak jelas menyebutkan
namanya. Dia mengajakku sebagai partner
dalam lomba, tapi sayangnya tidak jadi.
1 tahun sudah berlalu, sekarang aku sudah kelas VIII
dan hari ini aku ikut mengorientasi siswa kelas VIII. Aku juga satu satunya
kakak mentor yang masih kelas VIII loh...
“hari ini kita aksi jam 02.00” kata Kak Bunga, dia
adalah ketua OSIS di SMP ku.
“berarti kita nunggu ya bung?” sahut seorang kakak
kelas yang wajahnya sudah tidak asing bagiku. Ya dia adalah kakak yang pernah
mengajakku lomba.
“iye Wisnu” celetuk Kak Bunga.
“Mega, kamu nanti pegang kelas VII-2 ya bareng Wisnu”
kata ka Bunga, aku hanya mengangguk menuruti perintah ka Bunga.
Makin lama akupun semakin dekat dengan Kak Wisnu,
karena kedekatan antara kita membuatku kagum akan sosok Wisnu yang lucu,
periang, selalu semangat, dan ceria. Seiring berjalannya waktu perasaan kagum
itupun berubah menjadi perasaan suka, hingga akhirnya sayang.
Akupun terpilih menjadi pengurus OSIS setelah seleksi
yang cukup panjang. Aku mendapat posisi sebagai Wakil 1 ketua OSIS. Karena aku
BPH (Badan Pengurus Harian) di OSIS, aku dan ketujuh teman ku dimintai tolong
merekomendasi beberapa siswa untuk dipilih sebagai anggota sekbid di OSIS.
Akupun merekomendasi sekitar 5 hingga 7 orang, salah satunya adalah Cici. Cici
adalah teman sekelasku. Dengan banyak pertimbangan, Bu Wati pun menyetujuinya.
Untuk meyakinkan bahwa kita sudah sah menjadi pengurus
OSIS, diadakan LDKS untuk pengurus OSIS yang baru dan anggota MPK tahun ini.
Kebetulan, Kak Wisnu adalah ketua MPK tahun ini. LDKS tahun ini diadakan di
Bumi Perkemahan Ragunan. Acara LDKS berlangsung dengan seru, asik, heboh
dan ceria, apalagi ditambah dengan
kehadiran Kak Wisnu yang seru.
“cieee Cici sama Kak Wisnu? Cieee dehh” celetuk Desti,
salah satu temanku
“Kak Wisnu suka sama Cici? Masa iya sih, mereka kan
baru kenal 3 hari” tanyaku dalam hati. Akupun terus bertanya tanya dalam hati
dan kabar akan mereka berduapun semakin gencar. Sampai pada suatu siang, akupun
bertanya kepada Cici
“Ci, kamu suka sama Kak Wisnu?”
“mmmm...... Gimana yaa? Iya aku suka” sahutnya dengan
nada gembira. Saat itu aku terkejut, shok, kaget, lemas. Bagaimana mungkin dia
bisa suka pada orang yang baru dia kenal???? tanyaku dalam hati
“aku juga suka sama Kak Wisnu” celetukku
“tapi Wisnu hanya milikku seorang” sahutnya dengan
nada riang gembira. Lagi lagi aku shok, kaget, dan lemas. Karena aku masih
kurang yakin akupun bertanya kepada Kak Wisnu
“Kak, emang lu mau jadian sama Cici?”
“ya engga lah Mega, bayangin aja, aku udah kelas IX,
seminggu les 5 kali, kapan aku mau pacaran?”
“oalah, oke kak” sahutku tenang. Alhamdullilah itulah
kata yang tepat untukku.
Kamis, 29 september 2011 aku sedang duduk dengan teman
temanku di depan kelas VIII-4 sembaring menunggu bel masuk. Ketika itu Cici
baru saja datang lalu seseorang dari kelas VIII-4 berteriak ke arah Cici
“cieeeeee Cici sama Kak Wisnu cieeee longlast yaaa”
JLEBBB!!!! Itulah yang aku rasa, air mata mengalir deras di pipiku, aku hanya
bisa mendura sedih hingga aku tidak sanggup bangun, teman temanku berusaha
menenangkan ku
“sabar me, sabar kamu kuat kok” kata teman temanku.
Di kelas aku tidak melakukan apapun, aku tidak
mengerjakan tugas, aku tidak mendengarkan guru, aku tidak mencatat apapun, aku
tidak memedulikan apapun, yang kulakukan hanyalah menangis dan menyesal. Menyesal mengapa aku harus merekomendasi Cici
menjadi anggota sekbid. Mungkin saja kalau aku tidak merekomendasi Cici, dia
tidak akan bertemu Wisnu dan....... tapi sudahlah, mungkin harus begini
jalannya. Pada jam pelajaran terakhir kebetulan ada pelajaran BK, akupun
konsultasi pada guru BK ku. Aku menangis hingga tersedu sedu, ketika itu Cici
tahu aku menangis, dan kukira dia juga tahu penyebabnya, tapi ia tidak
berbicara sedikitpun kepadaku.
“mega” sambil tersenyum, aku hanya membalasnya dengan
tersenyum. Aku sudah tidak tahan lagi, akhirnya ku putuskan untuk segera menuju
Lab. Bahasa, ketika di Lab. Bahasa aku menangis, menjerit, teriak sekencang
kencangnya seperti orang gila. Ketika aku sudah berhenti menangis, aku kembali
keluar untuk mencari teman temanku, ternyata mereka semua sedang berkumpul di bawah
pohon rindang. Kulihat Cici dan Kak Wisnu sedang duduk bersama di bawah pohon
rindang dan dikelilingi banyak kerumunan orang. Aku hanya bisa kembali berlari
menuju Lab. Bahasa sendirian dan aku kembali menangis disana. Kemudian datang
salah satu temanku yang memeluk ku dan memberiku support ketika yang lain
sedang di luar.
Sejak saat itu, hubungan antara aku dan Kak Wisnu pun
merenggegang. Biasanya kalau kita bertemu kita selalu dorong dorongan, bercanda
canda tapi tidak dengan sekarang. Entah apa yang membuat kami berdua menjauh.
Selama hampir 1 bulan aku benar benar seperti orang
yang kehilangan kendali aku hampir tidak pernah mengerjakan pr, hampir setiap
hari aku datang terlambat, aku juga selalu menulis nama Kak Wisnu pada media
apapun di kertas, di tangan, di meja dan bangku sekolah, aku juga menjahit
namanya di streamin, aku juga jadi malas makan dan aku juga menjadi lebih
kurus.
Lambat laun aku mulai berfikir
“aku tidak bisa
terus terusan seperti ini. Aku harus berubah! Aku harus bisa membuat Kak Wisnu
melirikku dan aku harus selalu berada diatas Cici!!!!” Akhirnya aku jadikan Kak
Wisnu sebagai motivasi terbesarku dalam sekolah. Aku mulai buka lembaran baru.
Aku mulai merapihkan nilaiku yang menurun, ku tuntaskan tugas tugasku. Aku juga
selalu menyertakan diri dalam setiap acara. Hingga akhirnya, pada setiap
ulangan harian kebanyakan nilaiku diatas Cici, nilai UTS ku juga jauh diatas Cici,
aku juga sudah 3 kali memenangkan lomba dari total 3 perlombaan, diantaranya
juara 1 lomba mendongeng tk. Jakarta Timur, juara 2 lomba story telling tk.
Kecamatan, juara 1 lomba reporter cilik tk. Provinsi. Semua itu aku dedikasikan
untuk Kak Wisnu. Aku juga berusaha mendapatkan peringkat 3 besar pada ujian kenaikan kelas,
dan berusaha agar aku bisa masuk ke kelas unggulan di kelas IX nanti....
Suatu ketika, aku tengah main ke rumah teman baikku.
Disana kita bermain Truth Or Dare, itu adalah permainan yang mengharuskan kita
memilih antara jujur atau berani. Kalau kita memilih jujur kita harus jujur
menjawab pertanyaan apapun, tapi kalau kita memilih dare kita juga harus berani
melakukan apapun sesuai dengan perintah.
“nah meg, sekarang kamu pilih apa? Truth Or Dare?”
kata Delia.
“aku pilih dare aja deh”
“Dare buat kamu, kamu harus ngungkapin perasaan kamu
ke Kak Wisnu pas perpisahan kelas IX nanti” kata Desti
“hmmm, berarti sebulan lagi ya? Baiklah kalau
begitu...” jawabku dengan tegas.
30 April 2012, itu adalah tanggal dimana aku harus menepati
janjiku 1 bulan yang lalu. Aku benar benar gugup, tegang, merinding. Dihari
itu, aku juga harus menjadi pembawa acara sekaligus sebagai pengisi acara, aku
benar benar tidak bisa berkonsentrasi. Jujur, hari ini aku sangat sedih karena
mungkin itu adalah hari terakhir aku bertemu Kak Wisnu
Selesai acara
aku dan teman teman mengajak Kak Wisnu pergi ke salah satu mall yang ada di
kawasan Cijantung untuk makan. Disana
aku langsung disuruh teman temanku untuk melakukan dare.
“kak, ada yang ingin aku omongin” panggilku lembut ke
Kak Wisnu.
“sebulan yang lalu aku, Delia, Desti, Paras main Truth
Or Dare terus aku dapet dare harus ngomong ke kakak tentang perasaan aku”
terusku.
“sebenarnya, aku itu suka sama kakak, terus aku juga
nangis pas tahu Kak Wisnu jadian sama Cici. Makanya pas tempo hari aku galak ke
Kak Wisnu. Maaf ya kak” wajah ku pun langsung memerah aku juga langsung
menunduk karena malu.
“sebenarnya aku udah tahu meg, makanya kalo kita
ketemu biasanya aku manggil kamu alay atau kita biasanya dorong dorongan, sejak
saat itu kita jadi yang jaim jaim gimana gitu. Maafin aku juga ya meg, tapi
sekarang aku udah putus kok sama Cici” tuturnya
“iya kak, gapapa kok. Serius kak????? Kapan? Kok aku gatau?”
“udah lama meg, emang sih pas gue putus sama Cici ga banyak orang
tahu”. Aku hanya bisa terdiam bingung harus bicara apa. Setelah itu kita
kembali bercanda canda.
“eh eh eh main Truth Or Dare yukk” kata Putri
“ayo ayo ayo” jawab teman temanku dengan semangat.
Kita pun memutar pulpen untuk menetukan siapa yang terleih dahulu kena. Aku
dapat giliran pertama dan aku memilih dare.
“meg, dare buat kamu mintain tanda tangan ke mba mba
yang disana” kata Desti
“serius? Mmmmm..... gimana ya? Oke siapa takut” akupun
memintai tanda tangan salah satu petugas restaurant.
Selesai aku
menuntaskan dare ku, pulpen kembali diputar. Sekarang giliran Desti yang dapat,
dia memilih dare. Hehehe kusuruh dia naik turun lift yang ada di mall
itu.pulpen kembali diputar dan berikutnya Delia, dia juga memilih dare, ide gila
dari Kak Wisnu pun digunakan untuk dare Delia. Delia harus mengamen di mall itu
hinga ia mendapat uang Rp.1000,- dan
Delia pun berhasil melaksanakan dare dari kami. Pulpen kramat itupun kembali
diputar. Jeng jeng jeng.... Sekarang giliran Kak Wisnu. Lagi lagi yang dipilih
adalah dare.
“kak, dare buat kamu teriak Mega aku sayang kamu dari
lantai paling atas ke bawah. Cepetan kak....” Desti bicara dengan nada yang
antusias. Aku hanya bisa diam.
“oke. Kalian liat aku yaa dari bawah” Kata Kak Wisnu.
Kak Wisnu pun bergegas menuju lantai paling atas. Dari atas Kak Wisnu teriak ke
arah bawah.
“Megaaaaaaa i love you....” aku hanya bisa diam,
senang, bahagia, tertawa.... Bahkan perasaan inipun tidak bisa di rangkai
dengan kata kata. Oh tuhan, andai saja ini bukan hanya dare, mungkin aku akan
mendapat gelar sebagai remaja Indonesia terbahagia tahun 2012. Setelah Kak Wisnu
kembali turun ia berkata
“eh tahu gak? Pas diatas sebrang aku itu ada anak SMA.
Sebenarnya aku malu. Tapi gapapa demi Mega” pas Kak Wisnu ngomong kayak begitu
rasanya tuh..... kayak dibawa terbang ke langit ketujuh. Walaupun itu ga
beneran tapi aku bahagia kok.
Hari ini adalah pengambilan rapor akhir. YESS!!!!!!
Aku berhasil mendapat peringkat 3 di kelas, aku juga berhasil masuk ke kelas
unggulan, semua harapanku terpenuhi walaupun aku gabisa jadian sama Kak Wisnu,
tapi gapapa. Mungkin tuhan punya rencana yang lebih indah untuk ke depan nanti.
Aku gaakan
pernah lupain kejadian ini, di tanggal 30 april 2012
.



0 comments:
Post a Comment