Hari itu hari yang menyedihkan
bagiku,tak terasa waktu begitu cepat, coba saja aku tidak mengatakan yang tidak tidak. Amalia, maafkan aku, aku
telah menyumpah serapahkan mu tapi, sumpah itu malah terjadi padaku. Aku
teringat peristiwa itu pukul 11.00 sehabis pulang sekolah. Kau dan Miranda
berjalan beriringan, Miranda membantumu berjalan karena saat kau jatuh dari
tangga, pergelangan kakimu patah. Dokter menyarankan untuk diamputasi tapi kamu
menolak, maka tidak ada cara lain, tulangmu harus disangga dengan besi. Tapi
naas, sepulang dari rumah sakit engkau mengalami kecelakaan. Ibumu mengalami
keretakan pada tangan sebelah kiri sehingga tidak bisa digerakan. Sungguh nasib
buruk kau divonis kanker jaringan lunak sehingga kamu harus kembali masuk rumah
sakit. Namun, setelah kamu keluar dari rumah sakit, aku malah menghinamu dengan
kata kata
“pergi kau cacat! Kau tak pantas
sekolah disini. Ini tuh sekolah bergengsi! Aekolah orang orang kaya! Orang
orang pilihan! Pergi kau!” hinaku.
“Manda! Kenapa sih kamu ini? Amalia
tuh baru keluar dari rumah sakit, apa kamu gak kasihan?” Sungut Miranda.
“Bedebah kau Miranda! Aku tuh gak mau
temen temen kita itu ketularan Amalia. Amalia itu udah cacat, jelek, miskin
lagi!” kataku. Lalu Amalia mendekatiku dan menepuk pundakku
“Baiklah Manda, aku akan pergi dari
sini” Seraya membereskan buku bukunya.
“Gak usah pegang pegang! Sok sok melas
gitu lagi, bikin tambah enek tahu ga!” bentakku.
“Tunggu Amalia, jangan dengerin Manda,
dia tuh udah gila!” sergah Miranda mencegah Amalia pergi. Akupun meninggalkan
kelas dengan perasaan marah.
2 Bulan
kemudian....
“Inalillahi Wainailaihi Rajiun, teman
teman telah berpulang ke rahmatullah sahabat kita Amalia Rahmawati, mari kita berdoa semoga Amalia di terima di
sisi-Nya sesuai dengan kepercayaannya masing masing. Berdoa mulai.” Bimo
mengumumkan. Banyak teman teman yang menangis apalagi Miranda, dia terlihat
begitu shok.
“Ih apa banget sih Miranda! Ngapain
coba nangisin si Amalia cacat itu ewwwhh, alay banget!” gerutuku sangat kesal.
3 Bulan
kemudian....
“Gimana nih Manda?” Tanya Noni padaku
“Kayaknya kita ikutan aja deh, terus
kayaknya konferensinya seru, soalnya Kak Tigor yang jadi ketua panitia. Dia kan
seru tuh.” Kataku.
“Okedeh Man”
“Yaudah Noni, aku pulang dulu ya bye
bye”
“Bye Manda” sahut Noni seraya
melambaikan tangan.
“Pak supir, jalan!” suruhku. Mobilku berjalan dengan tenang.
“Hey, itu kan Amalia cacat! Tapi, dia
kan udah mati! Kalo emang dia belum mati, aku sumpahin dia sebelum dia mati,
semoga dia ngalamin kecelakaan, terus dia bakalan koma 4 bulan dan tersiksa karena sakit kankernya!” kata
ku. Setelah sampai di rumah, aku rebahkan tubuhku ke kasur, ugh rasanya capek
sekali, dan aku harus menyiapkan keperluan untuk konferensi lusa.
“hah......hah......hah.....Deg!”
“hah? Suara apa itu?” kataku,
“sudahlah, lebih baik aku tidur saja”
“Manda... Manda... Kenapa kamu menyupah serapah kan ku?
Kenapa Manda? Kamu akan kena karma Manda!”
“Haaaaaaah..... tidaaaaaaaakkk!!!!! huh huh huh untung hanya
mimpi” kataku
“tapi. itu tadi terdengar seperti suara Amalia.... Tapi
sudahlah”. Keesokan harinya
“Manda, lusa besok kita fix liburan ke Bali, ayo siapin
keperluan kamu” kata papa
“serius pa? Tapi kan besok aku ada konferensi, gimana dong
pa?”
“kalo gitu kamu gausah ikut konferensinya aja lagian, ga di
wajibkan ikut kan?” kata papa seraya memainkan HP nya. Tiba tiba teleponku
berbunyi, ternyata Noni yang meneleponku
“Halo Manda, ini Noni, kata Kak Tigor konferensinya diundur
jadi seminggu lagi dan tempatnya pindah jadi di Bali!” nada Noni antusias
“Serius???? Kebetulan
aku juga mau ke Bali, tapi jalannya lusa besok, kalo gitu kita bareng aja, kamu
mau ga? Kalo kamu mau lusa dateng aja ke rumah ku!”
“eeemmmm, boleh deh okeeey sampe ketemu lusa, bye!”
“bye Noni!” jawabku .
“krek... krek... Deg!” suara apa itu??? tanyaku dalam hati.
“ayok anak anak udah pada siap belum?”
“udah dong pa! ayo kits jalan” kataku semangat. Kami
melakukan perjalanan dengan mobil. Aku, Noni, mama, papa, dan tak terkecuali
Kak Hancent, kakak kesayanganku kami semua ikut ke Bali. Kami melakukan
perjalanan yang panjang, ugh...., lelah
sekali rasanya, tapi semua itu terbayar sudah ketika kami melihat sun set yang
sangat indah dari pantai kuta, papa sengaja memesan hotel yang ada di dekat
pantai kuta gara kita bisa melihat sun set di pantai setiap menjelang malam. Esoknya
kita langsung melakukan konferensi,
“Amanda Lucyana Simanjuntak?”
“Hadiiiiiir” sahutku sangat antusias sembaring mengacungkan
tangan tinggi tinggi
“Noni Nathalia?” panggil kak Tigor kembali
“Hadiiiiir”
“Triliana Wonclick?”
“Dia berhalangan hadir kak” sahut Noni
“Okey, kita lanjutkan Aditomo Putra?”
“Hadir!”
“Miranda Nadya Septiani?”
“Hadir kaaaaak!”
“Good! Nah, Amalia Salsabila?”
“Sudah meninggal kak” sahut Miranda dengan nada sedih
“Innalillahi” ka Tigor terkejut
“okeee kita lanjutkan!” lanjut Kak Tigor. Konferensi berjalan
dengan seruuuuuuu asik, heboh. Yang laki laki diajarin surfing, beberapa ada
yang belajar tari kecak. Yang perempuan diajarin tari pendet .
Seminggu kemudian......
“wuaaaaaah waktunya pulang, ga berasa ya Man udah seminggu
lebih kita di Bali” kata Noni
“Iya nih Non, hehehe” kita pulang sekitar pukul 23.30 malam,
papa sengaja memilih pulang malam entah apa alasannya. Suasana malam itu sepi
sekali
“haaaaa.... haaaaa.... haaaaa” aku kembali mendengar suara
itu sebenarnya suara apa itu???? kenapa suara itu selalu membuntutiku?????
“Pah, tadi telepon dari siapa sih? Kayaknya serius banget”
tanya Ibuku sinis
“itu loh mah, anaknya Ibu Dewi, katanya meninggal 3 bulan
yang lalu.”
“Anaknya Ibu Dewi? Anaknya bu Dewi bukannya cuma 1? Yang
sekelas sama Amanda kan Pah? Kalo gak salah namanya Amalia yang sakit kanker itu kan Pah?” tanya Ibuku
penasaran
“’Amalia si cacat itu mah? Ewwwhhh udah deh, orangnya juga
udah mati, ngapain sih diomongin lagi!”
“Papa awas ada truck!!!!!!!!” kata Kak Hancent
“Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttttttt” Papah membanting stir ke
kanan, aku pun menjerit
“K...k Kak H... an...
ce...cen.....t..t..tttt to...long... akkk....u!” kata ku terbata bata,
“Manda, tubuhmu terjepit mobil, sabar yaaa kami sedang
berusaha menolongmu!” kata Kak Hancent meyakinkan ku. Selama beberapa jam aku
tertahan di mobil, aku melihat papah terkulai lemas dengan luka cukup parah di
bagian kaki, sedangkan mamah dan Noni, aku tidak tahu dengan keadaan mereka.
Aku juga tidak tahu bagaimana Kak Hancent bisa selamat hanya dengan luka
ringan. Sejak saat itu, aku tidak tahu apa apa lagi.
Ketika aku terbangun, aku sufah berada di rumah sakit
“Mamah, Papah, Kak
Hancent tolongin Manda! Sakit mah! Perih pah! Pulang kak!” kataku sembaring
menjerit kesakitan. Tadi itu adalah kalimat pertama yang aku lontarkan setelah
koma selama 4 bulan.
“Sabar ya Amanda, mamah tahu kok itu sakit” kata mamah
menghiburku sembaring menahan air mata.
Akhirnya , keluar dari
rumah sakit. Tapi aku divonis kanker jaringan lunak dan ini amat sangat
menyiksaku. Aku tidak bisa menggerakan tubuhku secara bebas, hampir setiap hari
aku harus kemo terapi, dan akupun sudah botak. Pada saat itu aku merenung, hari
itu adalah hari dimana aku bercerita tentang kebaikan Amalia sampai kecelakaan
itu.
“Manda, makan dulu yuk, biar cepet sembuh”
“i.......y....ya
m...mah, mmm.... ma....kkk....ka....sih ba...nya...k m...mmm...mah” sahutku terbata bata.
Tubuhku langsung oleng, nafasku telah berhenti, tiba saatnya
aku pergi. Selamat tinggal dunia.
Disana aku bertemu dengan Amalia, dan aku meminta maaf pada
Amalia dan akhirnya aku hidup bersamanya.
-Iranne Anandar-

0 comments:
Post a Comment