Wednesday, January 16, 2013

Pahlawan W


Rembulan terbenam, fajar mulai bersinar, sebagai tanda dimulainya hari baru dengan segala aktivitas dan kegiatan yang telah menunggu. Cahaya matahari yang menyilaukan mataku membuat ku terbangun dari tidur ku. “Hoam”, kataku sambil mengucek-ucek mata. Aku berdiri, sambil merapihkan sarung yang menyelempang di leher ku. Aku melihat jam di dinding menunjukkan pukul 5.30, aku pun bergegas ke kamar mandi untuk membasuh muka sekaligus berwudhu untuk menunaikan sholat shubuh.
           Hari semakin pagi, namun suasana masih sepi, karena waktu baru menunjukkan pukul 06.00, itu artinya masih ada waktu untuk menyiapkan perlengkapan yang akan ku bawa pada festival peringatan hari pahlawan di sekolah nanti. Minum, handuk, dan sejumlah uang sudah ku masukkan ke dalam tas berwarna hitam kesukaan ku, tidak lupa ku siapkan sepeda kesayangan ku untuk mengikuti festival di sekolah ku nanti. Ban, rem, bel, kurasa semua sudah dalam keadaan baik baik saja. Selain itu, stiker bertuliskan “Bike To School” yang baru ku beli membuat ku semakin percaya diri untuk mengikutsertakan sepeda ku pada festival itu.
           Matahari semakin tinggi, sudah saatnya untuk sarapan dan mandi. Setelah ku selesaikan mandi ku dan ku habiskan sarapan ku, aku pun mengecek kembali semua perlengkapan yang akan kubawa. Setelah semua kurasa siap baik secara jasmani maupun rohani, aku pun meminta izin dari orang tua untuk melengkapi ekspedisi ku di hari pahlawan ini.
           Bermodalkan ‘Bismillah’ dan restu orang tua, aku pun mulai mengangkat tas ku dan menggulung lengan baju ku sebagai bukti kalau aku sudah siap!. “Assalamualaikum”, ucapku sambil meninggalkan rumah bersama sepeda ku. Jarak dari rumah ku ke sekolah memang tidak terlalu jauh, hanya sekitar 1 KM, tapi trek yang menanjak dan berliku membuat energi ku cukup terkuras, air keringat pun bercucuran selama dalam perjalanan. Sesampainya di sekolah aku sangat terkejut, melihat ratusan sepeda sudah memenuhi sebagian lapangan sekolah, aku fikir aku sudah telat, tetapi untungnya aku masih memiliki waktu 30 menit sebelum acara dimulai.
           Kutuntun sepeda ku memasuki gerbang sekolah, sambil mencari kedua sahabat dekat ku, yaitu Wandita dan Wati. Aku pun mengelilingi lapangan untuk mencari mereka, tetapi hanya Wandita yang kutemui. “Wati belum datang”, katanya spontan seolah dia mengetahui apa yang tengah kulakukan. “Yasudah, bagaimana kalau kita duduk dulu sambil menunggu kedatangan Wati?”, Wandita hanya mengangguk, kami pun pergi kebawah pohon rindang di dekat pos satpam.
           Setelah beberapa lama kami menunggu, akhirnya Wati pun datang bersama dengan sepeda nya. “Hai teman-teman!”, sahut Wati sambil tersenyum. “Hai juga Wati!”, balasku dan Wandita serempak. Kami pun duduk bertiga dibawah pohon rindang. “Gimana?Sudah dapat ide buat acara nanti?”, tanya Wati. “Oh iya! Kita kan diberi tugas untuk meramaikan acara ini!”, jawab Wandita dengan muka panik. “Menurut kamu gimana, Wir?”, tanya Wandita kepada ku. “Kalian berdua berunding saja dulu, berikan aku waktu untuk berfikir”. Mereka pun mulai berdebat, sedangkan aku hanya berusaha menenangkan diri ku agar dapat berfikir dengan lancar. Beberapa menit berselang, aku mendapatkan bayangan tentang kegiatan apa yang akan kami lakukan, kegiatan itu adalah flashmob. Aku pun mengutarakan pikiran ku itu kepada mereka. “Setuju!”, kata mereka kompak dengan semangat kepahlawanan. Kami pun menyepakati tentang kegiatan yang aku usulkan.
           Waktu menunjukkan pukul 7, itu berarti acara sudah dimulai. Seluruh murid dihadapkan ke arah panggung untuk mendengar dan melihat instruksi guru olahraga dalam melakukan pemanasan sebelum bersepeda. Setelah selesai pemanasan, semua murid bersiap di sepeda nya masing-masing, sayangnya aku tidak bisa bersama dengan Wandita dan Wati karena barisan laki-laki dan perempuan dipisahkan. Peluit dibunyikan, sebagai pertanda kalau perjalanan dimulai. Semua peserta mengayuh sepeda nya keluar gerbang sekolah sambil mengikuti guru olahraga mengelilingi kelurahan Kalisari.
           Kurang lebih 1 jam kami bersepeda, sampi akhirnya kami semua tiba di sekolah. Seluruh murid beristirahat di lapangan sekolah, sambil mendengar alunan lagu yang diputarkan. Aku pun berkumpul kembali dengan Wandita dan Wati, membicarakan flashmob yang telah kami rencanakan tadi pagi. Sampai akhirnya kami menemukan momen yang tepat untuk melaksanakan kegiatan tersebut, yaitu saat istirahat. Saat itulah Wandita Wira Wati beraksi.
           Hal pertama yang kami lakukan adalah meminta izin dari bapak dan ibu guru, karna peralatan dan kebutuhan yang kami perlukan semuanya milik sekolah. Setelah itu kami mulai mengajak beberapa orang untuk meramaikan flashmob tersebut, diantaranya adalah: Lesya, Silmy, Hanun, Ratna, Cindy, Putri, Diana, Natasha, dkk. Sebelum kegiatan dimulai, kami semua berkumpul di salah satu ruang kelas untuk membicarakan tentang konsep flashmob yang akan dilakukan, masing-masing dari mereka menyampaikan pendapatnya masing-masing. Aku hanya terdiam, memikirkan konsep apa yang akan kami laksanakan, sampai akhirnya terfikirkan oleh ku satu konsep yang unik dan menarik, yaitu ‘Gangnam Style’. Kusampaikan pendapat ku itu kepada mereka semua, hanya dalam hitungan detik jawaban ku dapatkan, yaitu “Setuju!”
           Izin sudah didapat, anggota sudah siap, konsep pun sudah bulat. Karena hanya aku satu-satunya lelaki yang ikut flashmob itu, aku pun memimpin barisan sampai ke tengah lapangan, semua mata langsung tertuju pada kami, lagu pun mulai di putarkan dan kami pun mulai unjuk gigi. Gerakan demi gerakan kami perlihatkan, mulai dari shuffle, hiphop, tutting, sampai gangnam. Puluhan mata kamera menyoroti aksi kami yang kurang lebih berjalan selama 10 menit, sorakan dan teriakan menyaingi kencangnya iringan lagu, sampai akhirnya beberapa detik sebelum lagu berakhir, kami pun menutupnya dengan ucapan salam dan terima kasih. Ribuan tepuk tangan menyelimuti keharuan kami, beberapa dari kami bahkan sampai meneteskan air mata sebagai rasa bangga akan apa yang telah kami lakukan.
           Ini semua tentunya tidak mungkin bisa terjadi tanpa izin dari sekolah, terutama dari yang maha kuasa. Selain itu, sikap solidaritas lah yang mempersatukan kami, hingga terbentuk lah acara ini. Tanpa teman-teman dan bapak ibu guru kami, Wandita Wira Wati tidak mungkin bisa melaksanakan acara ini. Maka beruntung lah kami memiliki keluarga seperti kalian semua, keluarga SMPN 179 Jakarta Timur.
TAMAT


- By : Kukuh Prawira Wicaksana-

#WanditaWiraWati's TrueStory






 

0 comments:

Post a Comment